Marketing Arsitek di Era Digital: Memajukan Profil Arsitek dan Desainer Interior Lewat Ranah Digital

Marketing Arsitek di Era Digital: Memajukan Profil Arsitek dan Desainer Interior Lewat Ranah Digital

Jumlah pengguna internet di Indonesia terus bertambah pesat setiap tahunnya.

Di awal tahun 2016, diperkirakan jumlah pengguna internet telah menembus angka sekitar 88.1 juta orang atau sekitar sepertiga dari total penduduk di Indonesia.

Pertumbuhan ini menciptakan potensi yang sangat besar bagi para pelaku usaha, baik produk maupun jasa, dalam meningkatkan penjualan perusahaan di pasar online.

Satu di antaranya di bidang jasa arsitek dan desainer interior.

Walau saat ini hanya sekitar 7 persen dari pengguna internet yang pernah berbelanja online, jumlah ini dinilai akan terus meningkat bersamaan dengan tingkat kepercayaan masyarakat untuk mencari informasi dan bertransaksi secara online, serta pertumbuhan jumlah pengguna smartphone.

Sejalan dengan hal tersebut, pada bulan Maret ini Komunitas ‘Arsitek Tanpa Nama’ mengadakan sebuah forum informal dengan salah satu temanya mengenai strategi marketing yang dapat menjadi pertimbangan para arsitek untuk diterapkan di era digital ini.

‘Arsitek Tanpa Nama’ sendiri, atau lebih dikenal dengan singkatan ATN, adalah sebuah komunitas arsitek no-boundaries di provinsi Bali yang mengadakan forum-forum sharing informal secara reguler dan terbuka setiap bulannya dengan tema yang berbeda-beda.

Pada kesempatan kali ini, ATN mengundang Ricky Cahyadi sebagai co-founder dari bluprin.com, sebuah direktori online arsitek dan desainer interior di Indonesia yang menghubungkan pemilik properti secara langsung dengan para profesional.

Sebagian besar dari biro arsitek dan desainer interior masih mengandalkan cara referral sebagai strategi marketing utama.

<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script> <script> (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({ google_ad_client: "ca-pub-6722953925423835", enable_page_level_ads: true }); </script>

Namun di sisi lain, dari hasil survei yang dilakukan ke publik, sekitar 30 persen responden memilih untuk menggunakan search engine dan media sosial dalam mencari jasa arsitek dan desainer interior.

Menurut Ricky, jika dilihat dari sisi tingkat konversi proyek (jumlah project leads berbanding project deals), konversi melalui online masih tergolong lebih rendah di kisaran 20 persen sampai 30 persen dibandingkan dengan offline yang mencapai 50 persen atau lebih.

Namun, sekitar 57 persen biro mengaku pernah mendapatkan proyek melalui online. Hal ini menunjukkan potensi yang besar dari sisi online dan perkembangannya ke depan.

Forum informal Arsitek Tanpa Nama kali ini juga dihadiri Baskoro Tedjo, seorang arsitek Indonesia yang aktif dalam mengikuti dan memenangkan sayembara desain, sebagai salah satu kontributor acara.

Sebagian dari sayembara yang dimenangkan beliau antara lain Sayembara Stasiun Monorail Jakarta (2005), Sayembara Kantor WWF Jakarta (2006), dan Desain Campus Centre Institute Teknologi Bandung (2003).

Baskoro, mengatakan di samping mendesain, arsitek juga perlu lebih pro-aktif dalam mempublikasikan karya-karya desainya sebagai bentuk strategi marketing, baik melalui media cetak, pameran, maupun online.

Acara yang bersifat terbuka ini bagi umum tanpa dikenakan biaya, dihadiri oleh sekitar 100 orang, baik dari kalangan praktisi, akademis, maupun mahasiswa.

Dengan semakin tingginya penetrasi pengguna internet di Indonesia, diharapkan ke depannya para profesional dapat memanfaatkan ranah digital secara efektif dalam mengembangkan industri arsitektur dan desain interior. (tribunnews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.